Minggu, 30 September 2007

Rabu, 26 September 2007

Topik 43: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 2

Bismillahirrahmanirrahim

Kebetulan pagi ini saya masih menunggu tamu di salah satu Hotel di Kualalumpur (tugas luar kota). Sembari menunggu saya sempatkan untuk membahas Topik 42 dan 43 ini, Insya Allah.

Pada ayat 2, akan digambarkan tentang bagaimana kekuasaan Allah itu Maha Lengkap (tafsir kata Al-Shomad menurut Abu Wa'il).

اللَّهُ الصَّمَدُ - Allahu Al-Shomadu

Perhatikan bahwa struktur kalimat diatas adalah, kalimat sempurna, dimana:
Mubtada: Allahu (lihat ciri-nya yaitu dhommah, sehingga Allahu, bukan Allaha, atau Allahi), dan
Khobar: Al-shomadu (tempat bergantung).

Kata al-Shomad memiliki dua pengertian yaitu: tempat bergantung, yaitu suatu yang cukup dengan sendirinya, dan semua bergantung ke dia. Allah Al-Shomad, artinya: Allah tempat bergantung semua makhluk. Pengertian kedua, yaitu dari akar katanya shomada, artinya: abadi atau kekal.

Menurut Ibnu Abbas: As-Shomad artinya: Yaitu suatu Dzat yang semua makhluk bergantung kepadaNya untuk mencukupi semua kebutuhan dan permintaannya. Dia adalah Raja yang memiliki kesempurnaan kekuasaannya, Sangat Mulia dengan KemuliaanNya, Sangat Perkasa dengan segala keperkasaanNya, Maha Tahu dengan segala IlmuNya.

Kata al-Shomad tidak boleh diatributkan kepada makhluk, karena sifat ini hanyalah Milik Allah (Tafsir Ibnu Katsir).

Demikian dapat kita pelajari dalam ayat 2 ini kembali kita bertemu dengan kalimat al-jumlah al-mufidah. Insya Allah topik berikutnya kita akan belajar, bentuk perubahan kata kerja sekarang (Present Tense) menjadi bentuk JAZM.

Topik 42: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 1

Bismillahirrahmanirrahim

Baiklah, kita sudah bahas dalam ayat 1, tentang bentuk al-jumlah al-mufidah, yaitu satu bentuk kalimat sempurna dalam bahasa Arab. Maksud sempurna disini adalah kalimat yang memberikan manfaat/faedah (mufidah).

Telah dijelaskan contoh-contohnya. Disini diberikan contoh lain:
انا مسلم - ana muslim (saya muslim)

Ini adalah kalimat sempurna, karena sudah terdiri dari Mubtada (Subject) dan Khobar (Prediket).

Kalau kita perhatikan contoh diatas, maka Mubtada dan Khobar itu sama sama kata benda. Ada lagi satu bentuk kalimat sempurna yaitu jika terdiri dari Kata Kerja + Pelaku, atau sering disebut Fi'il + Fa'il.

Nah Fa'il dalam bahasa Arab selalu kata benda. Dengan demikian, jika kalimat itu terdiri dari Kata Kerja dan Pelaku, maka telah dikatakan merupakan kalimat sempurna.

Contohnya begini:

هو يكتب - huwa yaktubu : dia sedang menulis
الطالب يكتب - al-tholibu yaktubu : seorang pelajar sedang menulis

Pola kalimat diatas juga disebut pola kalimat sempurna, karena terdiri dari Pelaku + Pekerjaan (Fa'il + Fi'il).

Oh ya, dalam bahasa Arab sangat sering polanya kata-kerjanya yang didahulukan, baru pelakunya. Jadi kalimat kedua itu seringnya ditulis sbb:

يكتب الطالب - yaktubu al-tholibu : seorang pelajar sedang menulis.

Ini pola yang lebih sering dijumpai, walaupun pola pertama tidak salah secara gramatikal.

Yang tidak boleh adalah kalau Pelakunya Kata Ganti (dia, kamu, dst) diletakkan setelah kata kerja.

Jadi pola seperti ini salah:
يكتب هو - yaktubu huwa : dia sedang menulis

Pola ini salah, karena kata ganti pelaku didalam bahasa Arab tidak boleh terletak setelah kata kerja. Kenapa? Disinilah uniknya bahasa Arab. Karena kata kerja bahasa Arab secara langsung telah menyimpan pelakunya.

Jadi kalau kita tulis:
يكتب - yaktubu saja, ini adalah kata kerja yang pelakunya dia (laki-laki), sehingga kalau kita tulis:
يكتب - yaktubu saja, ini sudah cukup yang artinya: dia sedang menulis.

atau misalkan:
أكتب - aktubu : saya sedang menulis
تكتب - taktubu : kamu (laki-laki) sedang menulis
نكتب - naktubu : kita/kami sedang menulis

Dan seterusnya.

Sebagai resume kita telah menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab, kalimat sempurna itu dikatakan memberi manfaat jika telah terdiri dari Mubtada (Subject) dan Khobar (Prediket), atau Fi'il (Kata Kerja) dan Fa'il (Kata Benda Pelaku).

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: Allah itu Esa. Menurut Tafsir Ibnu Katsir, maksud ayat ini adalah, bahwa Allah itu lah Tuhan yang Satu, tidak ada tandingan, tidak ada yang setara dengan Nya. Kata Al-Ahad tidak dapat digunakan untuk diatributkan ke seseorang, karena kata Al-Ahad ini hanya untuk Allah SWT (demikian Ibnu Katsir).

Insya Allah akan kita lanjutkan ke ayat-ayat selanjutnya.

Senin, 24 September 2007

Topik 41: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 1

Bismillahirrahmanirrahim

Topik kali ini kita Insya Allah akan masuk ke Latihan ayat 1 Surat Al-Ikhlas. Oke baiklah. Ayat 1 berbunyi:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Qul: Katakanlah
Huwa: Dia
Allahu: Allah
Ahadun: Ahad (Maha Esa)

Oke... Ada 2 pola bahasa yang bisa kita pelajari disini:
1. Fi'il Amar (Kata Kerja Perintah)
2. Al-Jumlah Al-Mufidah (bentuk Kalimat Sempurna)

Kata QUL: katakanlah! ini merupakan fi'il amr. Fi'il amr sudah banyak saya berikan contohnya. Saya juga sudah memberikan 6 langkah mudah membentuk fi'il amr. Apa perlu saya ulangi? Jika ya, Insya Allah saya akan ulangi. Jika tidak maka kita lanjut ke topik 2.

Sementara saya asumsi tidak perlu, karena Anda sudah mengerti. Maka kita masuk topik 2, yaitu bentuk Kalimat Sempurna (jumlah mufidah).

Al-Jumlah Al-Mufidah الجملة المفيدة

Jumlah Mufidah atau kalimat sempurna, dalam bahasa Arab mirip dengan definisi kalimat sempurna dalam bahasa Indonesia. Apa itu? Yaitu minimal terdiri dari subject dan prediket. Dalam bahasa Arab, subject itu biasa disebut al-mubtada, dan prediket itu biasa disebut al-khobar. Kalimat sempurna yaitu bila kalimat tersebut sudah memberikan faedah (mufidah).

Jadi definisi kalimat sempurna dalam bahasa Arab adalah suatu kalimat yang terdiri dari mubtada dan khobar, dan memberikan manfaat (artinya bisa dimengerti).

Dari definisi ini maka: kalimat Huwa Allahu Ahadun dapat dipecah menjadi kalimat sempurna:

Huwa Allahu هو الله - Dia (adalah) Allah.

Ini adalah kalimat sempurna, dimana mubtada nya adalah Huwa هو - Dia, dan khobarnya adalah Allahu الله - Allah.

الله احد - Allahu Ahadun : Allah (itu) Maha Esa.

Ini adalah juga kalimat sempurna, dimana mubtada nya adalah Allahu الله dan khobarnya adalah Ahadun احد - Maha Esa.

Ciri-ciri Mubtada

Salah satu ciri-ciri mubtada, adalah bahwa i'rob (harokat akhir) adalah dhommah, atau dhommatain, untuk kata-kata yang sifatnya tidak mabni. Wah wah apa lagi nih... Mabni itu apaan lagi tuh...

Oke, gini gini... Pertama saya jelaskan dulu, bahwa ciri-cirinya dhommah. Coba lihat:

Allahu ahadun. Harokat Allah disini adalah dhommah, sehingga dibaca Allahu (bukan Allaha atau Allahi). Sehingga kata Allahu (dalam Allahu Ahadun), dapat menjadi Mubtada'.

Sedangkan ada kata benda yang sifatnya tetap (mabni). Contoh kata Musa مسى ini adalah mabni. Tidak pernah dia dibaca Musi, atau Musu. Berbeda dengan kata kitaab كتاب ini bukan mabni, tapi berobah-ubah, bisa kitaabu, kitaabi, kitaaba.

OKE... kembali ke lap top... Jadi dalam ayat 1 surat Al-Ikhlas ini kita bertemu dengan jumlah mufidah:

Huwa Allahu Ahadun
Mubtada: Huwa
Allahu Ahadun: Khobar Jumlah (khobar dalam bentuk kalimat)

Sedangkan Khobar Jumlah, juga sebuah kalimat sempurna dimana:
Allahu: Mubtada
Ahadun: Khobar

Gitu ma' cik... Kira-kira ngerti kan????

Insya Allah akan dilanjutkan ke topik berikutnya, mengenai definisi kedua Jumlah Mufidah. Sebagai penutup, jumlah mufidah dalam topik ini maksudnya yaitu kalimat sempurna yang terdiri dari mubtada dan khobar.

Dalam topik berikutnya, ada defisini ke 2 jumlah mufidah itu, yaitu suatu kalimat yang terdiri dari Kata Kerja + Pelaku.

Allahu a'lam.

Jumat, 21 September 2007

Topik 40: Latihan Surat Al-Ikhlas, Tema: Mashdar Lanjutan

Bismillahirrahmanirrahim.

Pada topik 39, kita telah mempelajari tentang Mashdar yaitu kata dasar, atau kata sumber. Diberikan contoh dari kata dasar ini, dalam pelajaran bahasa Arab yang umum di buku pelajaran bahasa Arab, dapat diturunkan setidaknya 7 jenis kata. Sebelum melanjutkan ke Ayat 1 surat Al-Ikhlas, kita tuntaskan dulu pembahasan Mashdar ini.

Seperti telah disinggung, bahwa kata Al-Ikhlaas الإخلاص adalah Mashdar dari kata أخلص akhlasa. Akar kata dari akhlasa أخلص adalah خلص - khalasa, yang artinya murni, tidak bercampur, atau bersih.

Oke kita ulang-ulangi pelajaran yang telah lalu-lalu.

Disini kita bertemu beberapa hal. Pertama Kata Kerja 3 huruf (atau kata kerja akar), sebagaimana diketahui, kata apapun dalam bahasa Arab, umumnya terbentuk dari 3 huruf. Ini yang sering disebut AKAR KATA.

Jadi apa itu akar kata: yaitu pembentuk kata yang terdiri dari 3 huruf. Hmm mungkin kita agak bingung ya... Ya... saya juga. Hehe... Tapi untuk mudahnya saya buatkan skema sbb:

1. Kata Kerja Dasar(Akar Kata) - kita sebut KKD: خلص - khalasho, artinya murni
2. Turunan pertama dari KKD ini disebut KKT-1 (Kata kerja Turunan 1), yaitu ada penambahan alif didepannya, sehingga menjadi أخلص akhlasho. Sebagaimana telah dijelaskan tugas KKT-1 adalah menjadikan kata kerja yang tidak butuh objek menjadi butuh objek, sehingga kholaso (KKD) yang artinya murni (tidak perlu objek), maka akhlaso (KKT-1) artinya memurnikan (butuh objek).

Itu adalah skema-skema kata kerja. Jika di ringkas, maka bentuknya sbb (ambil contoh فعل - fa 'ala (mengerjakan):
1. KKD: فعل - fa'ala
2. KKT-1: أفعل - af 'ala
3. KKT-2: فعل - fa' 'ala
4. KKT-3: فاعل - faa 'ala
5. KKT-4: تفعل - tafa' 'ala
6. KKT-5: تفاعل - tafaa 'ala
7. KKT-6: إفتعل - if ta 'ala
8. KKT-7: إنفعل - in fa 'ala
9. KKT-8: إستفعل - is taf 'ala

Wuih ribet ya... Kata Kerja dalam bahasa Arab bisa mengambil bentuk banyak, ya!!! Hhmmm sebenarnya kalau hafal bentuk-bentuk ini (yang sering disebut wazan) akan membantu sekali, akan tetapi tidak hafal-pun lama-lama kalau sering dipakai Insya Allah akan hafal dengan sendirinya.

Kembali ke kata khalasa خلص artinya murni. Maka bentuk KKT-1 nya apa? Sesuai dengan wazan diatas, KKT-1 menjadi أخلص - akhlasha (memurnikan).

Oke, trus darimana datangnya Mashdar إخلاص - ikhlash? Nah begini lagi ceritanya.

Kalau tadi kata kerja itu bise mengambil bentuk 9 macam, maka masing-masing dari 9 macam itu ada Mashdar nya sendiri-sendiri.

Contoh:
1. KKD: فعل - fa'ala (mengerjakan), mashdarnya: فعلا - fa'lan (pengerjaan)
2. KKT-1: أفعل - af 'ala (mengerjakan), mashdarnya: إفعال - if 'aal (pengerjaan)
3. KKT-2: فعل - fa' 'ala (mengerjakan), mashdarnya: تفعيل - taf 'iil (pengerjaan)

Dengan melihat contoh diatas, maka dapat disimpulkan mashdar untuk KKT-1 أخلص - akhlasho (lihat contoh 2 diatas), adalah إخلاص - ikhlaash

Demikian telah kita tuntaskan pembahasa Mashdar.

Kamis, 20 September 2007

Topik 39: Idul Fitri tahun 2030

Bismillahirrahmanirrahim

Kapan kita berlebaran tahun 2030? Hehe... Apa tidak kejauhan? Ya, ini hanya sekedar "pancingan" saja, agar kita mau sedikit experiment dengan software gratisan yang ada di Internet.

Sekali lagi software astronomi gratisan andalan saya - HomePlanet, memprediksikan bahwa lebaran tahun ini dengan metode hisab jatuh pada 12 Oktober 2007. Dari berita di detik.com, Muhammadiyah secara resmi mengumumkan Idul Fitri tahun ini jatuh pada 12 Oktober 2007. (http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/
tahun/2007/bulan/09/tgl/20/time/075105/idnews/832131/idkanal/10)

Tinggal sekarang masalahnya metode ru'yat menghasilkan keputusan apa? Prediksi saya, berdasarkan software HomePlanet, maka bulan kemungkinan besar tidak bisa diru'yat. Sama halnya seperti pada tahun kemaren, maka kemungkinan tahun ini, lebaran akan pecah lagi. Ada yang merayakan pada tanggal 12 Oktober 2007, ada yang 13 Oktober 2007.

Jika terbukti nantinya bulan memang tidak bisa di ru'yat, maka bagi para netter, ini info yang semakin meyakinkan untuk bisa menjadikan software gratisan ini sebagai acuan.

Lebaran tahun 2030

Berdasarkan software HomePlanet, bulan baru masuk 2 Februari 2030 jam 23:09 WIB, artinya pada waktu Maghrib (sekitar pukul 18.00 WIB) hilal belum wujud. Dengan demikian Ramadhan diistikmal dan kemungkinan Ormas yang menggunakan Hisab akan berlebaran tanggal 4 Februari 2030.

Bagaimana dengan ru'yat? Jika ru'yat dilakukan tanggal 3 Februari 2030 (tergantung penetapan 1 Ramadhan berdasar ru'yat) maka pada saat Maghrib posisi bulan ada di atas Afrika Timur, yang kemungkinan besar bisa di ru'yat dari tempat-tempat di Pulau Sumatra (paling tidak di Aceh). Dengan demikian Lebaran jatuh kemungkinan pada 4 Februari 2030 (sama dengan yang menggunakan hisab).

Horee kita berlebaran pada hari yang sama.....!!!

Allahu a'lam.

Catatan: untuk analisa Idul Fitri tahun 2007 ini silahkan lihat:
http://arabquran.blogspot.com/2007/08/idul-fitri-2007-akankah-kita-berbeda.html

Rabu, 19 September 2007

Topik 38: Latihan Surat Al-Ikhlas, Tema: Mashdar

Bismillahirrahmanirrahim

Seperti telah dijelaskan dalam topik 37, dan topik-topik sebelumnya, dalam Al-Quran sering kita bertemu dengan Mashdar (kata dasar). Secara tatabahasa apa itu Mashdar? Inya Allah topik ini kan menjelaskan.

Mashdar

Mashdar arti letterleg (benar gak nulis nya ya...?), adalah sumber. Sumber apa? Ya sumber dari sesuatu. Dalam konteks kata, maka masdhar itu dapat dilihat sebagai sumber dari kata, atau ide kata atau kata dasar. Hmm bingung ya? Oke... kita ambil perumpamaan dalam bahasa kita agar mudah memahaminya.

Kalau saya berkata sebuah kata yaitu "penulisan", apa yang terbayang dalam benak Anda? Satu kata "penulisan" itu mengandung banyak ide didalamnya. Contoh: "Saya telah menulis buku dengan pulpen diatas meja". Atau "Saya sedang menulis buku dengan pulpen diatas meja"

Berbicara "penulisan" dalam konteks contoh diatas ada makna (ide) lain yang bisa timbul:
1. Pekerjaan waktu lampau: telah menulis
2. Pekerjaan saat ini / akan datang: sedang menulis
3. Istilah atau nama pekerjaan: penulisan
4. Pelaku: Saya
5. Sesuatu yang ditulis: buku
6. Tempat menulis: meja
7. Alat menulis: pena

Jadi dari satu kata "penulisan" muncul di benak kita setidaknya 7 makna seputar kata "penulisan". Itulah mengapa kita katakan kata "penulisan" itu adalah sumber dari 7 makna tsb. Dengan demikian dapat kita katakan kata "penulisan" itu adalah Mashdar.

Perlu diketahui bahwa, satu kata dalam bahasa Arab dapat melahirkan 7 kata diatas (inilah salah satu "kehebatan" bahasa arab, setidaknya menurut saya). Hanya dengan menghafal satu kata, kita sudah dapat membentuk 7 kata. Contohnya:

Kata kerja (akar kata): كتب - kataba (menulis)
1. Pekerjaan waktu lampau: كتب - kataba : telah menulis
2. Pekerjaan saat ini / akan datang: يكتب - yaktubu : sedang menulis
3. Istilah atau nama pekerjaan: كتبا - katban : penulisan
4. Pelaku: كاتب - kaatibun : penulis
5. Sesuatu yang ditulis: مكتوب - maktuub: sesuatu yang ditulis
6. Tempat menulis: مكتب - maktab : meja
7. Alat menulis: مكتب - miktab : alat menulis (pena)

Lalu apa kaitannya antara Masdhar (kata dasar) dengan akar kata. Nah kadang bagi orang yang baru mulai belajar bahasa arab (seperti saya ini hehe), bisa bingung. Jawaban mudahnya begini. Kalau "penulisan (writing)" adalah kata dasar (Mashdar), maka akar katanya adalah "tulis (to write)". Ya, akar kata adalah kata kerja asli (belum mendapat imbuhan spt awalan, sisipan, atau akhiran).

Yang agak sedikit ekivalen dengan mashdar dalam bahasa Inggris, yaitu Gerund. Gerund dalam bahasa Inggris, adalah kata kerja yang dibendakan. Contoh: menghantam (to hit), Gerundnya: hitting (penghantaman). Contoh lain: membersihkan (to clean), Gerundnya: cleaning (pembersihan).

Jika dilihat maka Masdhar itu secara praktis dapat dikatakan sbb:
pe + kata-kerja-dasar + an.

Atau dalam bahasa Inggris, Mashdar itu secara praktis sbb:
verb I (simple present) + ing (contoh, cleaning, hitting, dancing, dsb)

Sayangnya dalam bahasa Arab, Masdhar itu cara membentuknya ada 2:
1. Yang ada polanya
2. Yang tidak ada polanya

Untuk yang 1. kalau kita tahu kata-kerjanya maka dengan mengikuti pola kita bisa membuat masdharnya. Sedangkan untuk yang 2, karena tidak ada pola, maka satu-satunya cara adalah melihat di Kamus.

Contoh untuk 1, sudah banyak kita jelaskan pada topik sebelumnya. Saya ulangi sbb:

Kata Tauhid, Tarhib adalah Mashdar dengan pola yang sama. Kata Islam dan Ikhlas adalah Masdhar dengan pola yang sama.

Berikut penjelasannya.

POLA KKT-2
Kata Tauhid توحيد
Kata Kerjanya (KKT-2): وحد - wahhada (meng-Esa-kan)
Kata Mashdarnya: توحيد - tauhiid (Peng-Esa-an)

Kata Tarhib ترحيب
Kata Kerjanya (KKT-2): رحب - rahhaba (menyambut)
Kata Mashdarnya: ترحيب - tarhiib (penyambutan)

Pola membentuk masdharKKT-1: Tambahkan TA, dan sisipkan YA

POLA KKT-1
Kata Islam إسلام
Kata Kerjanya (KKT-1): أسلم- aslama (menyerahkan diri)
Kata Mashdarnya: إسلام - Islaamun(penyerahan diri)

Kata Ikhlas إخلاص
Kata Kerjanya (KKT-1): أخلص- akhlasho(memurnikan)
Kata Mashdarnya: إخلاص - Ikhlashun(pemurnian)

Pola membentuk masdhar KKT-1: Harokat Alif awal kasroh, dan sisipkan ALIF di sebelum akhir.

Demikian telah kita jelaskan pengertian Mashdar. Insya Allah akan kita lanjutkan dengan Latihan.